Home » Politik » Wajar, Naskah Akademik Mahal
Wajar, Naskah Akademik Mahal
Djufri R Diko

Wajar, Naskah Akademik Mahal

LUWUK-Mahalnya biaya pembuatan naskah akademik untuk pendampingan rencana peraturan daerah (Raperda), menurut Djufri R Diko, anggota komisi III adalah hal yang wajar-wajar saja. Pasalnya, untuk mendapatkan itu –naskah akademik-, perwakilan kampus harus terjun ke seluruh kecamatan dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh masyarakat.
“Jadi biayanya memang mahal, karena mereka harus turun dan berdiskusi ke semua kecamatan. Itu maksudnya untuk dapat menyerap pendapat masyarakat terkait perda yang nantinya akan diterapkan,” jelas aleg asal partai PAN ini, Jumat (8/1).
Jadi, menurut Djufri, pentingnya naskah akademik itu untuk mendapatkan tanggapan balik dari masyarakat dari diskusi ringan yang dilakukan perwakilan kampus. Ia mencontohkan, pembuatan perda pelayanan kesehatan beberapa waktu silam. Karena dibuat tanpa melalui naskah akademik, atau kajian-kajian terkait diskusi dengan masyarakat, akhirnya pada saat penerapan sempat mendapatkan penolakan. Walaupun, pada akhirnya diterima. “Makanya harus didiskusikan dulu, apakah mereka (masyarakat) siap atau tidak. Apalagi kalau itu ada pungutannya, harus diketahui dulu apakah mereka  mampu atau tidak. Itu yang penting. Jadi masyarakat harus tahu juga,” jelasnya.
“Jadi apa sih fungsinya tanggapan masyarakat? Supaya balance antara raperda dengan reaksi masyarakat. Dan itu di isyaratkan dalam Undang-undang nomor 12 tahun 2011 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan daerah. Dan itu baru diterapkan saat saya masih menjabat di Baleg,” tambahnya.
Pembahasan raperda yang tidak mewajibkan naskah akademik, kata Djufri, hanyalah pembahasan mengenai APBD. Sebab, penerapannya tidak berkaitan langsung dengan masyarakat. Sebelumnya, Ketua Baleg, Evert Kuganda menyebutkan pihaknya tidak menghasilkan satupun perda di tahun 2015, dikarenakan tidak adanya anggaran yang dialokasikan untuk itu. Ia juga mengungkapkan jika pembahasan itu membutuhkan anggaran yang cukup besar, yakni mencapai Rp500 juta per Raperda. Dari jumlah itu, pembuatan naskah akademik cukup menyedot anggaran besar yakni mencapai Rp200 juta lebih.(van)

About uman