Home » Berita Utama » Musda DPD II Golkar Rawan Konflik
Musda DPD II Golkar Rawan Konflik
Murad U Nasir

Musda DPD II Golkar Rawan Konflik

LUWUK—Mantan Sekretaris DPD I Partai Golkar Sulteng, Murad U Nasir khawatir Musda DPD II Partai Golkar Banggai yang diprediksi digelar tahun ini akan berlangsung ricuh. Pasalnya, pada pelaksanaannya nanti kedua kubu kepengurusan (hasil munas Bali dan Ancol,red) akan bertemu dalam satu kepentingan yang sama yakni, memilih pemimpin partai.
“Yang perlu diingat adalah imbas dari konflik antar elit ditingkat pusat telah menjalar ke seluruh daerah sehingga melahirkan dua kepengurusan ditingkat DPD I maupun II. Dalam kondisi itu terdapat sejumlah kader yang saling berpindah kepengurusan, dan kedua kubu tentunya memiliki jagoan masing-masing,” ungkap politisi senior ini, Jumat (8/1).
Apalagi, tutur dia, akibat dari kondisi tersebut melahirkan dilema terhadap para kader tentang kubu manakah yang memiliki legalitas untuk melaksanakan Musda.
Sedangkan putusan Mahkamah Agung (MA) tidak memenangkan salah satu kubu melainkan mengembalikan kepengurusan partai Golkar terhadap hasil Munas Riau.
“Munas Riau itu sudah koit (mati) kepengurusannya sejak akhir tahun 2015, yang tersisa saat ini hanyalah kepengurusan hasil Munas Ancol dan Bali yang sama-sama ngotot ingin melaksanakan Munas. Memang, saat ini Mahmakah Partai Golkar (MPG) tengah melakukan upaya untuk melahirkan kesepakatan pelaksanaan serta mekanisme Munas tapi, apakah itu akan berhasil?” tanya Murad.
Mengenai itu, sambungnya, dalam AD/ART Golkar juga tak mengatur pelaksanaan Munas atau Musda yang diikuti dua kepengurusan. Itu yang kemudian menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya kekacauan. Makin panas persaingan politik pada pelaksanaan Musda DPD II akan memicu gesekan antar kubu yang pada akhirnya berujung kisruh.
“Tapi mudah-mudahan saja tidak terjadi demikian. Jadi ke dua kubu harus mengedepankan prinsip kepandaian berdamai,” ungkap dia.

KADER “SOGILI” JANGAN MIMPI PIMPIN GOLKAR
Sementara itu, pada pelaksanaan Musda mendatang Ia menyarankan kepada para kader “sogili” supaya tidak bermimpi memimpin partai Golkar. Kader sogili menurut dia, adalah politisi yang tak bisa dipegang setiap perkataan dan janjinya.
“Politisi sogili, kutu loncat, pesan sponsor dan tercela jangan bermimpi memimpin Golkar,” tegas Murad.
Jika itu terjadi, mantan politisi Senayan ini menilai, akan membuat kerusakan Golkar makin berkepanjangan. Untuk memperbaiki kerusakan akibat bergesernya orientasi partai maka dibutuhkan figur pemimpin berprestasi, disiplin, dedikasi, loyal dan tidak tercela. Ditambah, politisi yang memahami ide dasar, paradigma baru, doktin serta inkrar panca bhakti partai Golkar. “Golkar juga bukan tempat persembunyian para kontraktor dan pengusaha kapitalistik untuk mengisi kantong dan perut pribadinya melalui kekuasaan. Tapi kalau dia adalah kontraktor dan pengusaha yang memiliki jiwa nasionalisme tak masalah. Itu sih hanya sebatas saran saya kalau Golkar mau jadi baik kedepan,” pungkasnya.(man)

About uman