Home » Banggai Laut » Keluarga Lajiri Prihatin, Dinsos Harus Turun Tangan
Keluarga Lajiri Prihatin, Dinsos Harus Turun Tangan
Sesuai kesepakatan keluarga, Lajiri dipasung karena diduga kurang beres pikirannya. Keluarga yang bersangkutan berharap ada perhatian dan uluran tangan dari pemerintah setempat.

Keluarga Lajiri Prihatin, Dinsos Harus Turun Tangan

JALAN tanah sepanjang kurang lebih 500 meter itu kelihatannya belum lama dibuka. Di sisi kiri-kanan masih berupa lahan perkebunan kelapa milik warga. Ada juga sungai kecil yang lebih mirip selokan memotong di tengah ruas jalan itu. Hanya ada satu pondok sederhana yang ditemui di mulut jalan, selebihnya kosong dan sunyi.

LAPORAN: Syamsul Bahri, Banggai Laut
JUM’AT (8/1) kemarin,  wartawan koran ini memang telah berniat untuk mengunjungi desa Lokotoy. Di ibukota kecamatan Banggai Utara, saya menengok kondisi Lajiri salah satu warga di sana yang kabarnya sedang dipasung.
Setelah tiba di ujung aspal dari arah Sekolah Menengah Kejuruan setempat, saya nekat menjalankan Yamaha R15 yang dikendarai perlahan di tanah berbatu itu. Jalan tanah itu mentok di jembatan darurat dari pelepah kelapa yang melintang seadanya di atas sungai atau selokan kecil yang melintas.
Dari sini sempat bingung karena tidak kelihatan rumah penduduk. Padahal menurut orang kampung, rumah Lajiri di sekitar sini. Beruntung kemudian muncul Riswan.  Bocah sepuluh tahunan ini mengaku cucu Lajiri dan bersedia mengantar Saya ke rumah kakeknya.
“Motor disimpan saja di situ, nanti om jato kalu lewat jembatan,” ujarnya memperingatkan.
Dari situ kami berjalan kaki sekira 200 meter lagi. Rupanya pondok Lajiri tersembunyi di antara pohon kelapa sehingga tidak begitu nampak dari luar. Ditemui siang itu, Lajiri tergolek di lantai rumahnya yang hanya berukuran 2×4 meter, beralas lampaian biru dengan dua bantal. Kondisinya cukup memprihatinkan dengan kedua kaki yang terpasung pada balok kayu tebal. Tidak ada siapa-siapa yang melayaninya. Menurut dia, Ati sang menantu yang selalu merawatnya sedang pergi membeli minyak tanah di warung.
Lajiri bercerita bahwa selama ini dia telah jadi korban fitnah. Sebagaimana berita di harian ini lalu, Lajiri sempat diproses ke Polisi karena dituduh membuat onar dan sering mengambil hasil kebun warga tanpa permisi. Saat ditangkap di sakunya terdapat uang sebanyak Rp 18 juta. Karena dianggap tidak waras, Lajiri dikembalikan ke keluarganya dengan catatan harus dipasung demi keamanan dan kenyamanan warga Lokotoy.
“Saya tidak gila. Hasil kebun yang saya ambil itu warisan keluarga. Saya hanya difitnah seperti orang tua saya yang dituduh PKI dulu,” rungutnya.
Saya terperangah dan sempat berpikir untuk menindak lanjuti kesalahpahaman ini. Tapi pada sesi wawancara berikutnya, bicara Lajiri malah makin ngawur. Alhasil, dugaan adanya penyakit kejiwaan yang diidapnya memang beralasan.
“Begitu memang papa kalu sudah lama bacerita,” terang Ati yang baru datang.
Dia mengaku ikhlas merawat orang tua itu, hanya saja dia berharap ada uluran tangan dari pemerintah atau dinas sosial untuk membantu biaya hidup Lajiri.
“Syukur uang yang disita waktu papa ditangkap masih dikembalikan. Biarpun sudah dipotong sebagian, tapi sementara ini masih cukup untuk biaya hidup papa dan kami sekeluarga,” akunya polos. (*)

About uman