Home » Metro Luwuk » Bahkan Ayah Pun Tak Mengenali Lagi
Bahkan Ayah Pun Tak Mengenali Lagi
Munawar, anak yang menjadi korban perpisahan kedua orang tua dan harus menjalani kehidupan yang keras, Jumat (8/1).

Bahkan Ayah Pun Tak Mengenali Lagi

Perceraian orang tua selalu berdampak pada penderitaan anak. Anak terkadang hidup dengan berbagai cobaan tanpa bimbingan dan perhatian. Bahkan terkadang mereka menerima perlakukan kasar dari orang orang dekatnya. Berikut kisah Munawar (12) korban perceraian orang tua yang hidup dengan berbagai kekurangan.

LAPORAN : Andi Ardin A. Ndiona, Luwuk Post
Lantunan musik dari beberapa kafe kian menusuk telinga. Maklum, waktu sudah larut malam. Malam itu, Kamis (7/1) di kilometer 5,  terlihat beberapa pengunjung kafe sedang asik bercanda gurau dan bernyanyi dengan beberapa wanita. kadang tertawa terbahak-bahak, menari serta berpelukan tanpa rasa canggung.
Kehidupan malam itu menjadi bagian dari aktivitas Munawar. seorang anak berumur 12 tahun asal Muna, yang berprofesi sebagai penjual kacang di sejumlah kafe yang berada di kilometer 5 Luwuk.
Sudah lebih dari 5 tahun Munawar menjual kacang di cafe itu. Ia bahkan sudah akrab dengan suasana malam kehidupan kafe, layaknya orang  dewasa. Siang harinya, ia harus menjadi buruh pengangkut barang di pelabuhan rakyat. Begitu terus aktivitasnya siang dan malam.
Bukan karena ia senang dengan profesinya itu. Namun, desakan kebutuhan ekonomi keluarga dan dirinya sendiri, yang memaksanya harus menahan kantuk dan dinginnya angin malam, serta ketakutannya terhadap beberapa pemabuk yang tidak jarang menakut-nakuti.
Munawar merupakan anak tunggal dari pasangan Ibu Uke dan Pak Mey. Namun, di usia Munawar yang baru 2 bulan, orang tuanya berpisah. Mulai saat itu, Munawar diasuh oleh neneknya yang hanya menjadi seorang penjual pisang goreng di kilometer 5.
Ibu munawar saat ini berada di Taliabo, sedangkan ayahnya saat ini sama sekali tidak memperdulikan Munawar. Bahkan, yang lebih parah, ayahnya kini sudah tidak mengenalinya lagi.
Munawar bercerita, suatu saat, tanpa sengaja ia pernah bertemu ayahnya, namun ayahnya sudah tidak mengenalinya lagi. Hanya munawar yang mengetahui, bahwa pria itu adalah ayah kandungnya.
“Ayah sudah tidak lagi mengenal wajah saya. Sempat beberapa waktu lalu tanpa sengaja saya  bertemu dengan ayah di pelabuhan rakyat,” katanya.
Kata dia, saat itu ia menjadi buruh pelabuhan dan mengangkat barang para penumpang. Saat itu Munawar mengangkat sebuah tas milik ayahnya itu, yang akan naik ke kapal.
Ayahnya itu sempat memberikan uang sebagai imbalan atas jasa mengangkat barang. Namun uang uang itu tidak diambil oleh Munawar.
Saat itu, ayahnya hanya mengucapkan terima kasih dan bertanya nama dan alamat Munawar.
“Ayah benar benar sudah tidak bisa mengenali saya,” ungkap Munawar dengan mata yang berbinar, sat ditemui Kamis (7/1), kemarin.
Munawar sempat berkata ia tidak ingin memiliki ayah seperti itu. Yang membiarkannya hidup sendiri, dan bahkan tidak mengenali lagi wajahnya.
“Saya tidak mau lagi punya ayah seperti dia. Anaknya sendiri saja dia tidak kenal,” katanya.
Munawar memang harus berjuang keras dalam menjalani kehidupannya. Ia tidak seperti anak-anak pada umumnya, Munawar tidak diberikan kebebasan untuk menikmati masa kecil seperti bermain dengan teman-teman sebayanya.
Begitu pula dengan fasilitas seperti pakaian bagus dan HP, yang anak seumurannya saat ini sudah memiliki.
“Mau beli pakaian bagus tidak ada uang, Nenek bilang sabar-sabar dulu. Nanti kalau ada uang baru nenek belikan,” ungkapnya sambil memandang jauh ke depan.
Dalam keluarga Munawar, terdapat seorang paman yang merupaka adik dari ibunya. Biasanya ia tinggal di rumah pamannya itu, namun karena ia tidak tahan dengan beberapa peristiwa kekerasan yang ia alami, sehingga ia memutuskan untuk lari dari rumah pamannya tersebut.
Munawar pernah pergi menemui ibunya di Taliabu. Ia mengadukan beberapa kali kekerasan yang ia alami saat tinggal dirumah pamannya. Namun ia tidak mendapatkan pembelaan yang memuaskan dari ibunya. Ia hanya diminta untuk kembali lagi ke Luwuk.
Perjalanan hidup Munawar memang penuh ketegangan. Sebagai seorang laki-laki, ia berharap tetap bisa bertahan hidup meski diselimuti berbagai kekurangan. Fenomena ini harusnya menjadi perhatian banyak kalangan, untuk berupaya menghindari perceraian, apalagi jika harus mengorbakan masa depan dan kehidupan anak anaknya.(*)

About uman