Home » Berita Utama » Merasa Senang, Meskipun Ternak Sapinya Dicuri
Merasa Senang, Meskipun Ternak Sapinya Dicuri
Jabir (40) difoto saat bercengkrama dengan awak media di Kejaksaan Negeri Luwuk, Rabu (6/1).

Merasa Senang, Meskipun Ternak Sapinya Dicuri

Mungkin ada diantara kita yang tidak percaya hal ini. Ternyata, masih ada warga desa di Kabupaten Banggai yang belum pernah datang di Kota Luwuk, ibukota kabupaten. Berikut kisah salah satu warga Kecamatan Nuhon yang baru kali pertama datang di Kota Luwuk setelah 40 tahun usianya.

Laporan, Asnawi/Luwuk Post
Sekira pukul 10.00 Wita siang kemarin, saya bersama sejumlah wartawan duduk di teras seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Luwuk, usai meliput pemeriksaan saksi Bendahara Madrasah Tsanawiyah (MTs) Luwuk terkait dengan kasus dugaan pungutan liar (Pungli).
Sambil bercengkrama dengan teman seprofesi, tiba-tiba dari sudut lorong Kejaksaan Negeri Luwuk yang terhubung langsung dengan Pengadilan Negeri, datang seorang pria tua dengan pakaian seadannya, dan langsung mengahampiri kami.
Dengan penuh keakraban, pria itu langsung menghampiri kami dan mengajak ngobrol. Tanpa grogi, ia langsung bersalaman sembari menanyakan Security Kejaksaan yang berjaga.
“Permisi pak, ada pak Feko yang jaga di tempat itu?” ucapnya sambil menunjuk pos security yang ada di pintu masuk halaman kejaksaan.
Kami pun langsung menanggapinya. “Ohh… Lagi keluar dia pak, tapi sedikit lagi udah balik. Emangnya kenapa pak?” pertanyaan balik pun dilontarkan oleh salah seorang dari kami.
Ternyata, pria yang menggunakan kemeja warna biru dan celana panjang coklat kusam itu adalah Jabir (40), warga Desa Binohu, Kecamatan Nuhon, Kabupaten Banggai. Pria yang memberikan fakta kepada kami, bahwa sebetulnya masih ada warga di desa desa yang belum melihat wajah kota Luwuk saat ini.
Yang lebih mencengangkan kami adalah, ternyata pria ini baru kali pertama datang di Luwuk selama usianya yang kini sudah memasuki 40 tahun. Jabir berada di Luwuk-pun, bukan karena rencana jalan-jalan atau sekedar berlibur. Kedatangannya di Luwuk adalah sebuah ketidak sengajaan, karena dipanggil Kejaksaan sebagai saksi dalam persidangan terkait kasus pencurian satu ekor sapi miliknya.
Proses hukum atas kasus pencurian ternak sapi miliknya itulah, yang membuat ia harus datang ke kota Luwuk. Memang kejadian itu membuat Jabir kesal. Karena ternak sapi yang dicuri itu adalah satu-satunya ternak sapi miliknya, yang ia peroleh dari pembagian setelah beberapa tahun memelihara ternak sapi milik warga di kampungnya.
Hanya saja, meski kesal, namun ia juga mengaku senang dengan adanya kasus pencurian ternak sapi itu. Katanya, kasus itu telah membuat dirinya bisa melihat kota Luwuk. “Ternyata Luwuk memang rame,” katanya.
Diceritakan, ia tiba di kantor Kejaksaan, Selasa (5/1) sekira pukul 20.00 Wita. Dari kampungnya, ia menggunakan mobil angkutan desa yang menempuh jarak sekira 150 kilometer. Kemudian ia diturunkan di terminal Biak, Kecamatan Luwuk Utara.
Untuk bisa tembus di kota Luwuk, ia harus menggunakan jasa ojek dengan jarak tempuh sekira 10 kilometer. Saat tiba di Luwuk, tepatnya di pintu gerbang kantor Kejaksaan, ia langsung melaporkan diri ke pos penjagaan.
Feko, salah seorang security yang ada saat itu, langsung mengantar Jabir untuk mencari penginapan. Agar bisa beristirahat dengan baik dalam menjalani sidang esok harinya. Namun, usaha itu nihil. Pasalnya, satu demi satu penginapan yang dihampiri sudah penuh. Akhirnya, tanpa kekecewaan yang berarti, Jabir langsung memustuskan untuk menemani Feko berjaga semalaman di pos security kejaksaan.
“Saya dengan Feko bacari penginapan, tapi tidak ada. Penuh semua. Pokoknya, torang keliling kota Luwuk ini, tapi sama saja. Daripada saya tidak dapat tempat tidur, lebih baik saya dengan Feko saja disini, berjaga malam,” ujar pria bergigi ompong itu.
Beruntung, di dalam pos penjagaan tersebut, terdapat fasilitas tempat tidur yang hanya bisa menampung satu orang saja. Karena merasa haru, Feko mempersilahkan Jabir untuk beristirahat di kamar pos penjagaan.
Namun Jabir menolak untuk tidur sendirian. Ia mengaku tidak tega melihat Feko duduk sendirian sambil memantau sitausi dan kondisi keamanan. Jabir pun keluar dari kamar itu dan menemaninya.
“Saya sudah suru tidur, namun pak Jubir tidak mau,” kata Feko bercerita.
“Bagaimana saya mau tidur, banyak nyamuk. Baru saya tek baku enak lihat Feko duduk sendiri. Jadi, dari tadi malam sampai sekarang ini, saya belum tidur,” tutur Jabir.
Jabir mengulang ceritanya, mungkin jika tidak ada kasus pencurian ternak sapi miliknya yang sampai pada proses hukum itu, ia benar benar tidak bisa menikmati keindahan kota Luwuk walaupun hanya sejenak.
“Kalu tidak ada masalah ini, mungkin sampe mati saya tidak liat ini Luwuk, paling hanya dengar cerita orang kalu Luwuk itu rame,” katanya.
Jabir merupakan asli suku Saluan yang berdomisili di Desa Binohu sejak 1976 silam. Hanya saja, karena ia tidak memiliki kepentingan untuk ke Luwuk, sehingga sejak kecil ia belum pernah datang di kota air ini.
Sehari-hari, Jabir bekerja sebagai buruh tani di perkebunan jagung milik warga di wilayah itu. Sedangkan Istrinya, Sai (39), sedang mengidap penyakit stroke, sehingga ia harus banting tulang menafkahi keluarganya setiap hari.
Selama semalam dan setengah hari berada di Luwuk, Jabir memang belum melihat Luwuk secara sempurna. Karena ia belum sempat berjalan jalan di kota ini. Menurut dia, sejak tiba, ia hanya sempat diantarkan oleh Feko mencari makanan di kawasan tanjung, Luwuk. Dari sanalah ia melihat sebagaian dari sudut kota ini, terutama pada malam hari.
Meski beruntung karena sapinya dicuri dan sempat melihat Luwuk karena kasus itu, namun Jabir mengaku tobat memelihara sapi. Kata dia, ia tidak ingin memelihara sapi lagi, karena tidak ingin direpotkan dengan masalah yang baru saja ia jalani itu.
“Masak sapi saya punya, trus dia bikin repot saya sendiri, saya tidak mau lagi piara sapi,” katanya.
Jarum jam terus berputar, tak terasa perbincangan Jabir dengan awak media yang penuh dengan canda dan tawa itu sudah sekira 2 jam. Saat itu, jam tangan sudah masuk pukul 12.20 Wita. Jabir pun pamit karena takut ketinggalan angkutan untuk kembali ke Nuhon.
“Maaf sebelumnya, saya sudah mau pulang. Soalnya, orang bilang mobil hanya batas jam 3 sore yang ke Nuhon. Jadi, saya sudah mau pamit ini. Nanti kalau kalian mau datang di Binohu cari saya saja. Tapi usahakan musim durian, supaya ada yang dibawa pulang ke Luwuk,” tuturnya memberi semangat agar para wartawan bersedia datang ke desanya.
Tanpa membuang waktu, Jabir langsung masuk ke dalam pos penjagaan untuk kemas-kemas barang bawaannya. Lima belas menit kemudian, Jabir keluar dengan tas pakaian berwarna pink. Kami pun langsung menghentikan ojek yang saat itu melintas, dan meminta mengantar Jabir ke terminal Biak. Perjumpaan yang singkat itu akhirnya berakhir.(*)

About uman