Home » Torang p Sekolah » Mereka Si Kaki Mungil dari Pinggir Kota
Mereka Si Kaki Mungil dari Pinggir Kota
Siswa SD N Buon yang antusias saat diminta untuk berfoto.

Mereka Si Kaki Mungil dari Pinggir Kota

Masih banyak anak yang mengeluh bahkan marah ketika jemputan terlambat datang, atau repetan makian kepada matahari yang dengan sombongnya bersinar dan memberikan bau aneh menyengat dari dalam tubuh yang seharian lelah karena kegiatan belajar.

Rizka Chaniago, Luwuk Post
TERIK matahari terasa perih menusuk kulit, bahkan angin enggan bertiup pada hari itu. Hari dimana saya harus menemani salah seorang sahabat bertandang di salah satu sekolah dasar yang berada di perdesaan. Untuk sampai disekolah memakan waktu 30 sampai 45 menit.
Bersembunyi dibalik rindangnya pohon papan tanda pengenal sekolah menyembul seakan malu-malu untuk memperkenalkan diri,  SDN Buon Kecamatan Luwuk Utara.
Kunjungan kami tepat saat jam pelajaran terakhir dimulai, sejam lebih saya menemani kawan saya di sekolah sederhana ini, tepat setelah urusan selesai anak-anak juga telah bersiap untuk pulang. Anak-anak berhamburan keluar kelas saat lonceng penanda berakhirnya pelajaran hari ini selesai. bisa dibilang Lonceng berbunyi hampir bersamaan dengan kami yang pamit pulang.
Ada pemandangan yang membuat saya bersyukur karena bisa mengenyam pendidikan dasar dengan akses ke sekolah yang memadai. Ayah yang siap antar jemput, kalaupun tidak, bisa naik angkutan kota padahal jarak dari rumah dan sekolah cukup dekat alasan panas,cape,haus jadi alasan paling tak terbantahkan untuk memanjakan diri dengan menikmati fasilitas yang ada.
Tapi mereka anak-anak kecil dengan kaki mungil mereka yang dihiasi kaos kaki kedodoran, rela menempuh jarak yang terbilang jauh. bagi saya. dan itu mereka lakukan setiap hari. Catat setiap hari.
Pemandangan yang luar biasa kontras, kalau di kota jalan-jalan didepan sebuah sekolah akan macet ketika jam pulang sekolah. Penjual asongan, mobil segala type, motor yang terkadang mengeluarkan asap yang menyesakan tertumpuk jadi satu didepan sekolah.
Bagi saya yang terbiasa dengan suasana macet yang dikarenakan bertumpuknya mobil dan motor untuk menjemput siswa-siswa SD yang berada dikota. Dibuat kagum dengan anak-anak kecil mandiri yang jalan kaki untuk sampai dirumah. Tidak ada wajah kecapean atau berkeluh kesah karena matahari dengan congkaknya menyinari mereka, yang berada di daerah yang mungkin dalam peta hanya seperti titik kecil diantara barisan kata.
Saya pikir rumah mereka pasti dekat dengan sekolah, makanya mereka masih sanggup untuk jalan kaki setelah cape belajar.
Hasil percakapan singkat saya dengan salah satu anak-anak tersebut membuat saya harus menelan kembali kata-kata bodoh yang seenaknya memvonis anak-anak tersebut. “ Rumah diujung ka,” katanya malu-malu.
Rumah mereka jauh diujung desa, jauh. Iah jauh. Bayangkan jarak antara rumah mereka dengan sekolah kurang lebih 2 km. jadi bisa dibilang setiap harinya mereka harus menempuh 4 km untuk bersekolah.
Orang tua yang sibuk bertani, untuk mengepulkan asap dapur membuat mereka tidak bisa merengek minta antar jemput. Sengatan matahari bukan alasan untuk tidak bersekolah. Jarak bukan halangan untuk merasakan nikmatnya ilmu pengetahuan.
Kalian si kaki mungil sederhana dari pinggiran kota luwuk yang megah. Terimakasih kalian mengajarkan saya untuk bersyukur. Ternyata jarak bukan halangan untuk mengenyam pendidikan.(*)

About uman