Home » Berita Utama » Jika di NTT ‘Sumber Air Su Dekat’, di Luwuk ‘So Jauh’
Jika di NTT ‘Sumber Air Su Dekat’, di Luwuk ‘So Jauh’
Pelayanan PDAM Luwuk hingga kini masih menuai sorotan pelanggan. Pasalnya, suplai air bersih yang disalurkan kerap macet. Nampak, kantor PDAM saat memajang spanduk penolakan Plt Direktur PDAM beberapa waktu lalu.

Jika di NTT ‘Sumber Air Su Dekat’, di Luwuk ‘So Jauh’

Air adalah sumber kehidupan. Tidak ada manusia yang tak membutuhkan air dalam kehidupannya. Sebab, bisa dibilang 80 persen dari tubuh manusia terbentuk oleh air. Olehnya, air sangat penting dalam kehidupan kita. Jika program salah satu produsen air mineral di Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil mendekatkan sumber air ke warga pedesaan. Di kabupaten Banggai, khususnya Kota Luwuk justru sebaliknya.

LAPORAN: STEVEN PONTOH, LUWUK POST
HAMPIR setahun belakangan kabupaten Banggai bisa dibilang tidak tersentuh hujan. Bahkan, saking kerasnya kemarau panjang, beberapa hektar hutan belantara terbakar.Kabut asap-pun sempat menyelimuti wilayah yang bermotto ‘Kota BERAIR’ itu. Kemarau panjang memang membuat debit air berkurang, terlebih penebangan pohon dengan cara sembunyisembunyi serta pembukaan lahan baru terus terjadi. Akibatnya, sumber air bersih yang disalurkan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Luwuk macet. Keluhan terhadap pelayanan PDAM tak pernah hilang, hingga saat ini. Mengantisipasi hal itu, PDAM dibawah kepemimpinan plt Direktur Benyamin Pongdatu, menerapkan sistem bergilir. Benyamin menyebut pembagian bergilir terpaksa dilakukan untuk dapat membagi rata, sisa air bersih yang ada di puncak Bukit Keles. Kebijakan itu sempat diprotes beberapa pelanggan, namun akhirnya bisa diterima, karena alasan kebersamaan menikmati air bersih. “Supaya semua bisa dapat air, maka kita gilir per 18 jam. Kenapa harus 18 jam, karena itu untuk memberi waktu air mengalir ke pipa pelanggan terjauh,” ujar Benyamin akhir tahun 2015 lalu.
Kebijakan itu berjalan lancar, hingga akhir Desember 2015. Meski mengeluh, sejumlah pelanggan tetap memilih diam. Akan tetapi pada tanggal 31
Desember, hari terakhir di tahun 2015 keluhan itu memuncak. Sebab, sistem bergilir yang dikatakan 18 jam ternyata lewat. PDAM sudah menutup keran air ke beberapa wilayah seperti Kelurahan Bungin Timur dan Kilongan, sejak tanggal 30 Desember 2015 pukul 18.00 Wita. Namun baru membukanya kembali pada tanggal 31 Desember 2015 pukul 23.30 Wita. Tapi kemudian macet lagi pada tanggal 01 Januari 2016 sekira pukul 19.00 Wita, demikian seterusnya. Dengan waktu air mengalir itu, jelas terlihat sistem bergilir tak lagi 18 jam seperti yang dilontarkan Benyamin, si plt Direktur PDAM. Waktu macetnya sudah lebih dari 24 jam, tapi mengalirnya hanya 18-19 jam saja. “Ini ada yang gak beres nih kalau gini caranya PDAM,” tutur Ando, salah satu pelanggan PDAM. Ia mengaku sistem bergilir tak lagi diterapkan dengan adil oleh perusahaan milik daerah itu. Bahkan, yang menjadi tanda tanya ialah, mengapa di BTN Nuspratama dan kompleks perumahan anggota legislatif yang berada di keetinggian airnya jalan normal (tak pernah mati), namun di beberapa wilayah yang lebih rendah justru tidak jalan sama sekali. Selain itu, musim penghujan juga mulai menyambangi kota Luwuk. Beberapa kali hujan mengguyur wilayah ini, hingga kota kebanjiran. Tapi air PDAM? Tetap saja gak jalan. “Kota sudah kebanjiran, sampah sudah naik dari drainase ke jalan, tapi air PDAM masih mati,” keluhnya. Alasan PDAM, lagi-lagi soal debit air. Memang, hujan sehari tak langsung mempengaruhi debit air. Tapi akan terlihat aneh, jika air ke pipa pelanggan tidak mengalir, namun perusahaan air kemasan yang mengambil air dari sumber yang sama, masih tetap beroperasi dengan baik tanpa terlihat kekurangan pasokan. Dengan alasan itu, bantuan miliaran
rupiah untuk perbaikan sarana dan prasarana PDAM mulai diragukan sejumlah pihak. Sebab, jika alasan PDAM debit air kurang, maka perbaikan perpipaan juga tidak terlalu mempengaruhi suplai air bersih ke rumah pelanggan. Karena pipa dalam kondisi baikpun akan tetap sama, jika debit air dari sumbernya di Bukit Keles tidak cukup, seperti pengakuan pihak PDAM. Semoga, setiap keluhan bisa ditanggapi dengan baik dan tidak ada ‘permainan’ dari sistem bergilir yang diterapkan itu.(*)

About uman