Home » Berita Utama » Jalan Bunta-Luwuk Nyaris Tanpa Kerusakan
Jalan Bunta-Luwuk Nyaris Tanpa Kerusakan
Jalan antara Kabupaten Banggai dan Tojo Una-una sudah membuat cukup nyaman para pengendara. Nampak di belakang wartawan koran ini sepeda motor dengan asyik melewati jalan yang baru saja dikerjakan, Kamis (24/12).

Jalan Bunta-Luwuk Nyaris Tanpa Kerusakan

PEMBANGUNAN infrastruktur jalan sangat penting untuk mendukung kegiatan perekonomian. Apalagi, kini pertumbuhan kendaraan begitu pesat setiap tahunnya.

Alisan, Luwuk Post
Sejak Rabu (23/12) sore saya telah mempersiapkan dengan matang untuk melakukan perjalanan dari Kabupaten Tojo Una-una menuju Kabupaten Banggai. Mulai dari mengganti ban sepeda motor, mengganti pelumas mesin, memeriksa kekencangan ban, dan tak lupa mengntrol rantai kendaraan agar tidak terjadi kecelakaan saat perjalanan.
Itu saya lakukan karena yang terlintas di pikiran, pasti jalan sangat rusak, batunya pasti tajam, bisa-bisa merobek roda kendaraan yang mulai menipis itu. Sebab, saat berangkat September lalu masih terdapat beberapa ruas jalan yang belum diperbaiki.
Kesesokan harinya, tepat pukul 12.00 Wita, saya memberanikan diri untuk berpetualang menaklukan perjalanan yang menguras waktu selama 5 jam itu dengan jarak 248 kilometer. Tetangga-tetangga pun memperingatkan bahwa harus hati-hati, masih ada jalan yang rusak, bahkan parah.
Setelah 3 menit memanaskan sepeda motor, perjalanan pun dimulai. Matahari begitu menyengat  di siang bolong itu. Satu baju, dan dua jaket yang melapisi tubuh masih terasa sengatannya. Laju kendaraan ketika itu memang benar-benar stabil, kecepatannya hanya 70 kilometer per jam. “Ah, kalau pun jatuh belum tentu habis riwayat saya, kecepatannya hanya segini,” pekik saya dalam hati sekadar menenangkan situasi.
Dalam Kota Ampana jalan masih begitu mulus, laju kendaraan tetap saya jaga jangan sampai berpindah jalur ke saluran atau rumah warga. Saat jalur tempuh sudah keluar kota itu, jalan masih tetap sama hanya ukurannya yang makin mengecil.
Sekira 5 kilometer memasuki perbatasan Kabupaten Tojo Una-una dan Kabupaten Banggai alat berat terlihat kokoh. Di sana ada proyek peningkatan jalan. Di lokasi proyek itu, saya berhenti sejenak, kebetulan rekan waktu SMA dulu berada di lokasi itu, entah apa yang dia kerjakan. Perbincangan kita hanya singkat bahkan, mesin kendaraanpun tidak dimatikan.
Perasaan begitu lega sekaligus gelisah saat memasuki wilayah Kabupaten Banggai. Lega karena jarak tempuh semakin dekat dan khawatir akan kondisi jalan yang selama ini diperbincangkan. Konsentrasi menunggangi sepeda motor semakin tajam, helm diperbaiki, tali sepatu dikencangkan, roda sepeda motor dilihat kembali. Perjalanan pun berlanjut.
Tapi saya begitu terkejut. Ternyata yang digunjingkan orang-orang selama ini tidak benar, termasuk tetangga saya tadi. Kondisi jalan begitu bagus, setiap menikung kecepatan kendaraan tak turun signifikan.
Singkat perjalanan, tibalah saya di Kecamatan Pagimana untuk mengisi bahan bakar disalah satu SPBU yang katanya baru saja diresmikan. Sekaligus mampir di warung kelontong untuk mendinginkan mesin kendaraan.
“Dari mana ?” tanya pemilik warung kelontong. Jawaban saya begitu datar karena energi mulai terkuras. “Dari Ampana, mau ke Luwuk,” jawab saya singkat. Pemilik warung itu kembali lagi berceloteh yang membuat kuping sedikit malas mendengar. “Jalan sekarang sudah bagus beda dulu, kami saja ke Luwuk tidak sampai dua jam lagi, kalau lalu 2,5 jam,” ujar pemilik warung dengan wajah semringah.
Memang benar kata pemilik warung kelontong itu. Bahkan sebelum memasuk di Desa Bunga, Kecamatan Luwuk Utara, proyek peningkatan jalan masih digeber terus. Perjalanan itu memang melelahkan, tapi terbayar dengan “karpet hitam” yang dibentangkan Bupati Banggai, Sofhian Mile, selama 5 tahun mengendalikan tampuk kepemimpinan. Sehingga siapa pun yang terpilih berikutnya, harus bisa menjaga kenyamanan pemilik warung kelontong tadi dan masyarakat lainnya. (*)

About uman