Home » Metro Luwuk » Massa Aksi ‘Mutiara’ Tertahan Pagar
Massa Aksi ‘Mutiara’ Tertahan Pagar
Dua wanita peserta aksi damai berfose dari balik pagar besi kantor DPRD Banggai, yang dijaga ketat anggota Brimob Kelapa Dua, Senin (21/12).

Massa Aksi ‘Mutiara’ Tertahan Pagar

LUWUK-Ratusan massa aksi damai yang dilakukan sejumlah warga yang menamakan diri sebagai Forum Koalisi Rakyat Menggugat (FKRM)terpaksa hanya berdiri di depan kantor DPRD Banggai. Keinginan mereka untuk masuk ke halaman kantor perwakilan rakyat itu tidak diijinkan Kapolres Banggai AKBP Jamaluddin Farti dan Dandim 1308/LB Letkol Arm Themy Usman. Hanya ada sekira 20 orang perwakilan yang diijinkan menemui anggota legislatif terkait aduan mereka terhadap besarnya rupiah yang dikeluarkan dalam pelaksanaan Pilkada Banggai tahun 2015.
Setelah bertemu dengan Ketua DPRD, Syamsulbahri Mang dan mengutarakan keinginannya. Perwakilan FKRM meminta agar dihadirkan pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU) Banggai dan Panwasli dalam pertemuan itu. Sayang, kedua pihak tersebut tengah berada di luar kota sehingga tidak bisa menghadiri panggilan yang dilayangkan pihak DPRD, atas tuntutan massa aksi. Melihat sejumlah massa aksi berada di luar pagar, Wakil Ketua Koalisi Mutiara Banggai, Zulharbi Amatahir bersama rekannya menemui Kapolres dan Dandim. Dalam perbincangan, terdengar Zulharbi meminta ijin agar pintu pagar dibuka, sehingga massa aksi bisa masuk ke dalam pelataran kantor DPRD Banggai. Akan tetapi permintaan itu ditolak Kapolres dan Dandim, dengan alasan keamanan kantor DPRD. Zulharbi terlihat tetap meminta untuk dibukakan pintu, Ia mengaku sudah mendapatkan ijin dari Ketua DPRD agar massa aksi diijinkan masuk. Namun, permintaan itu tetap tidak diterima. Pasalnya, Kapolres dan Dandim melihat massa aksi sudah tidak bisa dikendalikan. Selain membakar ban bekas di jalan depan kantor DPRD, massa aksi juga berulang kali membakar petasan dengan suara nyaring dan mengejutkan. “Maaf pak (Kapolres, red), tadi pak ketua (DPRD, red) sudah memberi ijin soalnya panas mereka di luar,” kata Zulharbi. “Tidak bisa, kita hanya menjalankan tugas pengamanan. Kalau memang dia (ketua DPRD) mengatakan begitu, biar dia datang kesini supaya kami tahu yang bertanggungjawab nanti,” ungkap Jamaluddin.
Zulharbi bahkan menjamin bahwa massa aksi tidak akan berbuat anarkis. Namun, tindakan salah satu massa aksi sebelum perwakilan diijinkan masuk disebut sebagai bentuk tidak kooperatif dalam aksi damai, kemudian aksi bakar ban dan petasan, serta tindakan dua pemuda yang sempat diamankan ketika aksi dilakukan di depan kantor Polres Banggai, juga menjadi dasar keputusan Kapolres dan Dandim untuk tidak memberi ruang bagi seluruh massa aksi masuk ke kantor perwakilan rakyat itu.(van)

About uman