Home » Luwuk Utara-Timur » Tak Diurus, Situs Budaya Terancam Punah
Tak Diurus, Situs Budaya Terancam Punah
Kondisi situs budaya kosali matindok yang rusak parah. Sementara pesta adat keramat beberapa pekan lagi.

Tak Diurus, Situs Budaya Terancam Punah

Situs budaya seharusnya dijaga, dirawat serta dipertahankan wujud aslinya. Agar keindahan dari situs tersebut menjadi keistimewaan tersendiri bagi masyarakat setempat maupun yang mengunjunginya. Namun, tidak terjadi untuk situs budaya kosali motindok. Pasalnya, hanya dibiarkan begitu saja, tanpa ada perawatan yang berarti.

LAPORAN : Asnawi, Luwuk Post
Situs budaya kasali matindok didirikan sejak tahun 2010 silam. Karena menurut kepercayaan masyarakat Batui Kecamatan Batui Kabupaten Banggai lokasi itu merupakan tempat yang pernah didiami oleh suku asli Batui. Sehingga untuk mengenangnya, masyarakat Batui mendirikan situs tersebut.
Situs tersebut akan terlihat ramai saat pemangku adat Batui mengantar telur maleo ke Banggai, Kabupaten Banggai Laut (Balut). Ramainya itu sekira pertengahan bulan Desember setiap tahunnya. Biasanya masyarakat Batui katakan pesta adat atau biasa disapa keramat.
Sementara itu, puncak perayaan sudah di depan mata. Namun, tindakan konkrit dari pengurus situs budaya kosali matindok tidak terlihat. Bagaimana tidak, situs  yang dikunjungi setiap tahun pada akhir  bulan Desember itu terlihat tidak terawat. Bahkan, plafon situs sudah tercabut. Begitu juga dengan tempat beristirahat penduduk yang mngunjungi situs tersebut sudah roboh.
“Beberapa pekan ke depan akan diselenggarakan pesta adat (keramat). Namun, pengurus situs budaya kosali Matindok belum ada langkah-langkah konkrit untuk membersihkan lokasi situs. Mereka (pengurus situs,red) terkesan hanya duduk manis tanpa ada tindakan yang berarti,” ujar Ketua komunitas muda pecinta situs budaya (KMP-Sidaya) Batui Ronald R Nasir, Selasa (15/12).
Ia menilai, pengurus situs budaya kosali matindok tidak becus. Sebab, sejak penyelenggaraan keramat 2014 yang lalu hingga saat ini tidak ada yang merawat situs tersebut. Padahal, lokasi itu sangat sakral bagi masyarakat Batui.
Situs budaya bukan hanya dirawat saat penyelengaraan pesta adat berlangsung saja, melainkan situs itu harus dirawat secara baik. Agar keistimewaan situs budaya dapat terjaga sampai kapanpun. “Kalau sudah rusak baru direhab berarti bukan situs budaya. Kalau situs budaya harus dihaga, dirawat sehingga wujud keaslian dari situs tersebut bisa dipertahankan,” tegasnya.
Ironisnya lagi, sekira  tiga meter dari lokasi situs budaya sudah dibangun jalan perusahaan PT. Wika. Sehingga diduga kerusakan situs budaya kebanggaan masyarakat  adat Batui tersebut akibat pembangunan jalan.
“Situs budaya baru lima tahun, tidak mungkin rusak akibat ditelan zaman. Olehnya itu, diduga kerusakan situs budaya ini akibat pemabangunan jalan PT. Wika,” tandas Onal sapaan akrabnya.
Selain pembangunan jalan PT. Wika, kata dia, terdapat penambangan pasir yang jauhnya dari situs budaya Matindok sekira 20 meter. Sebab, sering terjadi longsor. Sementara situs budaya tak jauh dari bantaran sungai. “Kalau sering diambil pasir, maka dipastikan akan mengancam situs budaya tersebut. Sebab, tidak ada tanggul yang dibuat,” katanya.
Onal mengungkapkan, pemerintah daerah dalam ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Banggai pernah berjanji akan membangun tanggul di lokasi situs budaya, namun hingga saat ini belum terealisasi.
Melihat kondisi seperti ini, KMP-Sidaya Batui sangat khawatir dengan situs budaya tersebut. Sebab, lama kelamaan akan terancam punah akibat tidak terurus. Apalagi, adanya perushaan yang diduga sengaja merusak situs itu.
“Kami generasi muda Batui tidak menginginkan situs budaya punah. Olehnya itu, peran aktif dari pengurus dan pihak perusahaan harus dibutuhkan untuk menjaganya. Kalau tidak diurus lagi, maka otomatis tempat untuk mengenang para suku asli Batui yang dipercaya pernah mendiami wilayah tersebut  akan sirna,” harap Onal dengan raut wajah kecewa. (*)

About uman