Home » Metro Luwuk » Keluarga Minta Pertanggungjawaban BRSUD Luwuk
Keluarga Minta Pertanggungjawaban BRSUD Luwuk
Keluarga almarhumah Imelda (32), pasien yang meninggal usai menjalani perawatan pasca operasi caesar saat mengamuk, Senin (14/12) di depan ruangan ICU BRSUD Luwuk.

Keluarga Minta Pertanggungjawaban BRSUD Luwuk

LUWUK– Keluarga almarhumah Imelda (32), pasien yang meninggal dunia di ruang ICU usai operasi ceasar di BRSUD Luwuk beberapa waktu lalu, disebut sebut akan mengusut persoalan itu karena diduga ada kesalahan penggunaan injeksi obat oleh seorang mahasiswa kebidanan yang sedang menjalani praktek di rumah sakit.
“Ya, kami sebagai keluarganya akan usut masalah ini sampai tuntas,” tegas Vin, keluarga almarhumah.
Sebelumnya, Imelda ketika diperiksa dokter kala itu dinyatakan tidak bisa melahirkan normal sehingga satu satunya jalan adalah operasi sesar. Namun, setelah selesai menjalani operasi, ImeIda kemudian disuntik, dan saat itu pula ia mengalami kejang-kejang, tubuhnya biru-biru. Parahnya lagi, Imelda sempat tak siuman selama 5 hari di ruang ICU BRSUD Luwuk.
Atas kematian Imelda, keluarga sudah berupaya meminta penjelasan pihak rumah sakit, namun tidak bisa mendapat jawaban yang memuaskan.
“Keluarga belum puas dengan penjelasan dokter kemarin. Jadi kami ingin mengadukan persoalan ini hingga ke ranah hukum. Supaya kedepannya tidak terulang kasus yang sama terhadap pasien yang lain,” tegas Vin, warga Kecamatan Nambo itu.
Terpisah, pihak BRSUD Luwuk, Disman, ketika dikonfirmasi harian ini via telepon, Minggu (13/12) malam, hanya bisa mengarahkan agar menemui tim dokter yang sedang  menangani Imelda saat itu. “Atau besok saja ketemu dokternya. Saya lagi di Morowali ini lihat orang tua sedang sakit,” singkatnya.
Sementara, Firayanti, Alumni mahasiswa kedokteran Makassar, ketika dimintai tanggapan mengatakan, yang harus  dibuktikan adalah adanya unsur perbuatan tercela (kesalahan-red) yang dilakukan dengan sikap batin entah; itu karena alpa atau kurang hati-hati ataupun kurang praduga. Yang jelas, kata dia, dalam kasus atau gugatan adanya civil malpractice, pembuktianya dapat dilakukan dengan dua cara yakni, cara langsung dan tidak langsung.
“Cara langsung dia memakai tolok ukur duty (kewajiban). Yakni, sesuai hubungan perjanjian tenaga perawatan dengan pasien, tenaga perawatan harus bertindak berdasarkan indikasi medis, bertindak secara hati-hati dan teliti, bekerja sesuai standar profesi, dan terakhir harus ada informed consent,” terangnya.
Sedangkan, lanjut dia, cara tidak langsung yang merupakan pembuktian bagi pasien, yakni mengajukan fakta-fakta yang diderita pasien sebagai hasil layanan perawatan (doktrin res ipsa loquitur, tentunya fakta yang memenuhi criteria, diantaranya : fakta tidak mungkin ada/terjadi apabila tenaga perawatan tidak lalai, fakta itu terjadi memang berada dalam tanggung jawab tenaga perawatan, fakta itu terjadi tanpa ada kontribusi dari pasien dengan kata lain tidak ada contributory negligence (gugatan pasien),” tandas Fira.
Disisi lain, salah satu staf Akbid Cokroaminoto, Senin (14/12) sekira pukul 16.30 Wita menyambangi redaksi Luwuk Post. Dua staf tersebut coba mengklarifikasi pemberitaan terkait dugaan yang melakukan penyuntikan itu adalah mahasiswa akbid. Mereka membantah hal itu, sebab dari penelusuran tidak ada mahasiswanya yang melakukan injeksi kepada pasien. “Memang tidak disebut disitu mahasiswi akbid cokro, tapi pimpinan saya bilang harus diklarifikasi karena yang aktif dan praktek saat ini hanya akbid cokro dan stikes. Kalau dari mahasiswi kami tidak ada yang melakukan itu,” ungkap Aswar, pria yang mengaku diperintahkan Ibu Rahma, pimpinannya.
Berdasarkan penelusuran Ibu Rahma, kata Aswar yang melakukan penyuntikan itu adalah seorang perawat laki-laki. Sementara, mahasiswa akbid tidak ada yang laki-laki. Untuk itulah Ia bertandang dan meminta klarifikasi. “Katanya bos, kalau bisa jangan lagi sebut mahasiswa akbid, karena yang praktek ini ada dua yakni mahasiswa akbid cokro dan stikes. Jadi kalau bisa sebut saja mahasiswa praktek,” imbuhnya.
Ia menyakini saat ini masyarakat hanya tahu satu akbid di kota Luwuk, sebab beberapa akbid lainnya telah ditutup, yang tersisa tinggal akbid cokroaminoto. Untuk itu Ia menegaskan jangan menyebut mahasiswa akbid saja. Karena di lokasi praktek (BRSUD) Luwuk juga terdapat mahasiswa lain yang praktek.(tr-33)

About uman