Home » Berita Utama » Kartu Sahabat Win-Star Dituding Berbau Politik Uang
Kartu Sahabat Win-Star Dituding Berbau Politik Uang
Kartu Sahabat Sehati Winstar yang dijadikan barang bukti dugaan politik uang di Pilkada Banggai. Kasus ini telah dilaporkan ke panwaslih dan polres Banggai.

Kartu Sahabat Win-Star Dituding Berbau Politik Uang

LUWUK – Dugaan money politics alias politik uang di Pilkada Banggai terus diuber Tim Koalisi Partai Pendukung Paslon MUTIARA. Tim paslon dengan nomor urut 2 itu setidaknya menemukan modus money politics lewat pembagian Kartu Sahabat Winstar.
Kasus yang telah dilaporkan ke Panwaslih dan Polres Banggai itu antaranya terjadi di Desa Minakarya, Kecamatan Moilong, Desa Lonas, Desa Boras Kecamatan Mantoh, Desa Pasir Lambah Kecamatan Toili Barat dan Desa Nonong Kecamatan Batui.
Wakil Sekretaris Koalisi Mutiara Banggain Zulharbi Amatahir menyatakan, politik uang atau money politik yang dilakukan pasangan calon nomor urut tiga Herwin-Yatim dilakukan secara masif dan terstruktur. Hal itu terlihat dari sejumlah temuan kasus politik uang yang terjadi di seluruh wilayah Kabupaten Banggai.
Modusnya, seperti yang terjadi di Desa Mina Karya, Kecamatan Moilong. Menurutnya, calon bupati berinisial HY, memanggil warga desa yang berinisial M bersama teman temannya. Pemanggilan itu dilakukan sebulan sebelum voting day. Dalam laporan di Panwaslih, pria berinisial M ini diberikan uang oleh HY sebesar Rp 20.000.000. “Uang itu untuk ditukarkan dengan kartu yang telah disebarkan pada masyarakat Desa Mina Karya,” jelasnya.
Sementara kasus politik uang yang terjadi di Desa Pasir Lambah Kecamatan Toili Barat modusnya adalah warga berinisial SH mengaku menerima uang dari salah satu tim pemenangan Win-Star di Toili Barat senilai Rp 1.000.000. Uang tersebut untuk dibagikan pada 30 orang dengan tujuan untuk mencoblos pasangan calon bupati Herwin Yatim dan calon wakil bupati Mustar Labolo saat voting day 9 Desember 2015 lalu.
Kasus politik serupa juga terjadi di Desa Nonong, Kecamatan Batui. Pria berinisial S mengaku telah memberikan uang pada warga senilai Rp50 ribu perorang dengan mengajak agar memilih paslon nomor urut tiga.
Sementara itu, politik uang yang dilakukan paslon nomor urut tiga juga terjadi di Desa Lonas dan Desa Boras. Dari pengakuan saksi terungkap bahwa “Kartu Sahabat Sehati” untuk 1 kepala keluarga (KK) dan dapat ditukarkan dengan uang.  “Bahkan yang mengedarkan kartu itu juga akan mendapatkan upah,” jelas Zulharbi dalam laporannya ke Panwaslih.
Kasus politik uang yang dilakukan paslon nomor urut tiga itu tak hanya dilaporkan ke Panwaslih kabupaten Banggai, tetapi juga di Polres Banggai. “Kita juga sudah melaporkannya ke Polres Banggai. Kami meminta agar Panwaslih dan pihak kepolisian benar-benar menseriusi masalah ini,” pungkas Zulharbi.(bd)

About uman