Home » Ekonomi » Pengisian Jeriken Kembali Marak di SPBU
Pengisian Jeriken Kembali Marak di SPBU
Pengisian bbm melalui jeriken kembali marak dilakukan di SPBU. Anehnya, para petugas SPBU pun terkesan memprioritaskan jeriken ketimbang kendaraan yang mengantri, Jum’at (11/12).

Pengisian Jeriken Kembali Marak di SPBU

LUWUK—Pemilik kendaraan sepertinya harus bersabar saat melakukan pengisian bahan bakar minyak (bbm) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU). Pasalnya, pengisian jeriken kembali marak mewarnai aktivitas pengisian dengan jumlah kuota yang terbilang tinggi.
Pemandangan itu mulai terlihat di SPBU di jalan MT Haryono, atau tepatnya di belakang masjid Agung Luwuk. Akibatnya, para pemilik kendaraan roda dua maupun roda empat harus bersabar mengantri untuk dilayani oleh petugas.
“Bagaimana antrian tidak panjang kalau petugas lebih memprioritaskan melayani pemilik jeriken. Sebab, setahu saya aturan di SPBU jeriken tidak dibenarkan mengisi sesuka hati, ada rambu-rambu yang harus ditaati supaya memperoleh bbm,” keluh Sawaludin, salah seorang karyawan bank swasta belum lama ini.
Keluhan juga dirasakan oleh salah seorang mahasiwa Amik Nurmal Luwuk, Ilham, Jumat (11/12) kemarin. Ia menilai, akibat kurangnya fungsi kontrol pemerintah serta pihak terkait mengakibatkan para petugas SPBU dengan semaunya melayani pemilik jeriken yang datang silih berganti.
“Ini sangat disesalkan. Mereka (petugas) dengan seenaknya mengutamakan pemilik jeriken dengan begitu bebasnya tanpa adanya pengawasan,” tegas Ilham.
Kondisi seperti itu, lanjut dia, tidak akan terjadi ketika fungsi pengawasan diperketat dan dipertegas. Ia khawatir, tingginya intensitas pengisian jeriken memicu indikasi adanya oknum yang melakukan penimbunan bbm.
“Itu hanya menguntungkan oknum tertentu saja, sedangkan rakyat lain yang seharusnya menikmati bbm justru kesulitan bahkan sama sekali tidak kebagian bbm. Harusnya pemerintah mengambil langkah antisipasi, jangan nanti kemudian ada temuan oknum penimbun bbm baru bergerak, seperti pahlawan kesiangan,” cetusnya.(tr-35)

About uman