Home » Metro Luwuk » Penjual Obat Anti ‘Doti’ Nyaris Diamuk Massa
Penjual Obat Anti ‘Doti’ Nyaris Diamuk Massa
Polisi saat menunjukan sepotong kayu dan minyak yang diklaim penjual sebagai obat penangkal guna-guna (Doti,red), Kamis (10/12).

Penjual Obat Anti ‘Doti’ Nyaris Diamuk Massa

LUWUK-Apes benar nasib yang dialami SS penjual obat tradisional yang mengaku pendatang dari Kalimantan. Pasalnya, pria berusia 46 tahun itu nyaris diamuk massa hanya karena profesinya sebagai penjual obat keliling, Kamis (10/12) di kompleks Tanjung, Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk.
Menurut sejumlah warga, SS digelandang ke kantor kelurahan karena dianggap melakukan hipnotis terhadap 6 orang warga setempat hingga membeli obat yang ditawarkan. Korban mengaku awalnya SS hanya menjajakan jualannya. Namun kemudian Ia menanyakan berapa jumlah uang yang ada di dompet korban yang tengah melihat-lihat aksinya. Tanpa sadar, korban langsung mengiyakan dan membeli obat yang dikatakan mujarab dan menghindarkan pembeli dari serangan ilmu hitam.
“Setelah saya menjawab jumlah uang di dompet, dia (penjual obat,red) langsung meminta setengah dari uang yang ada di dan menawarkan sepotong kayu serta minyak yang dibungkus uang seribuan. Tanpa ragu-ragu saya langsung mengiyakan saja. Setelah saya kembali pulang ke rumah, barulah saya merasa ada yang ganjil dari proses transaksi itu. Dan ternyata bukan hanya saya sendiri. Tapi, sebanyak 6 orang yang merasakan hal demikian,” ungkap Roy, salah satu korban, ketika dimintai keterangan saat berada di kantor kelurahan Karaton.
Menilai banyaknya warga yang mengeluh karena merasa tertipu, warga sepakat untuk mendatangi penjual obat tersebut. Belum sempat berbuat onar, Ketua Pemuda Tanjung langsung menggiring penjual obat ke kelurahan dan meminta polisi yang menjadi Babinkamtibmas memediasi persoalannya.
Kepada polisi SS mengaku, transaksi penjualan obat yang dilakukannya adalah kesepakatan bersama dengan pembeli dan dengan dasar keiklasan. “Saya hanya menjual obat. Itupun saya tidak memaksa mereka untuk membeli obat,” pungkasnya.
Ia juga menambahkan, ketertarikan pembeli saat itu karena hasiat obat yang ia tawarkan untuk menangkal racun dan menghilangkan pengaruh guna-guna.”Kalau mereka tidak tertarik dengan khasiat obat saya, tidak mungkin mereka mau membeli obat yang saya tawarkan,”jelasnya.
Sementara itu, Bripka Zamrud, anggota polisi yang memediasi masalah tersebut mengatakan, si penjual obat telah mengantongi izin-izin yang diperlukan untuk memasarkan obatnya. Kejadian itu hanyalah salah paham antara penjual obat dan pembeli. “Sebenarnya hanya salah paham saja. Sebab, tidak ada unsur pemaksaan dalam transaksi mereka. Hanya saja, kejadiannya dapat dijadikan pelajaran untuk penjual obat dan pembeli yang tadi merasa dihipnotis,” pungkasnya.
Untuk menghilangkan amarah warga, Zamrud menengahi masalah tersebut dengan mengembalikan uang milik ke enam pembeli sebesar Rp900 ribu, yang sebelumnya telah dikantongi penjual. “Jadi, untuk lebih amannya uang pembeli saya kembalikan. Sebab kalau tidak warga akan melakukan tindakan anarkis,” jelasnya.(*)

About uman