Home » Ampana » Menelisik Bisnis Aquarium Syamsoeh
Menelisik Bisnis Aquarium Syamsoeh
Syamsoeh kini sudah lebih nyaman menjalankan bisnis karena sudah mengantongi pundi-pundi yang cukup besar dari bisnis aquariumnya. Nampak saat Syamsoeh menelisik satu per satu aquarium dan ikan-ikannya, Selasa (8/12).

Menelisik Bisnis Aquarium Syamsoeh

Butuh kegigihan untuk merintis usaha tanpa modal. Pontang-panting pun tak cukup menjalankan roda bisnis tanpa strategi yang ampuh. Berikut perjuangan Syamsohe, pedagang aquarium di Kabupaten Tojo Una-una.

Laporan : Alisan, Luwuk Post.

Di seberang jalan pertigaan itu, di depan salah satu perbankan nasional terdapat sejumlah gubuk reot,  nyaris roboh, bentuknya seperti ukiran kayu yang belum kelar di pahat. Salah satu di antara mereka, terdapat pedagang aquarium dan ikan, ada juga pedagang kelontong sekaligus penjual bensin eceran. Bagi mereka, bising kendaraan sudah biasa. Sebab, tempat menjual pun berada di emperan jalan di Kelurahan Uentanaga Bawah. Tapi, ada yang menarik dari beberapa pedagang di sana, yakni pedagang aquarium dan ikan bernama Syamsohe.
Di pondokan kecil itu, pria 40 tahun itu menggantung hidupnya. Tapi siapa sangka, omzet mencapai jutaan rupiah setiap minggunya. Cukup fantastis memang. Tapi, untuk membangun kerajaan bisnis kecil-kecilan itu tidak mudah. Kondisi tubuh seakan remuk redam, butuh perasan keringat deras sebagai pengorbanan awal.
Perjuangannya memang patut diapresiasi. Syamsoeh mulai membeber rentetan perjuangannya. Awalnya, saat berangkat dari Kota kelahirannya, Bogor, Jawa Barat pada akhir Mei lalu hanya dengan modal dengkul. Tiket maskapai menuju Kota Luwuk, Kabupaten Banggai pun dibayarkan oleh orang lain. Saat tiba di Kota Air (julukan Kota Luwuk), uang serece tak ada yang tersisa di dompet. Kehidupan saat itu benar-benar sehelai sepinggang.
Dengan kondisi seperti  itu, ayah dua anak ini berusaha untuk menembus Kecamatan Pagimana mencari sanak saudaranya. Kemudian, meski begitu, Syamsohe bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga pula. Keluarga tak satu pun yang didapat. Akhirnya, jam tangan yang masih melingkar di tangannya harus rela di jual seharga Rp 150 ribu untuk melanjutkan perantauan di Kabupaten Tojo Una-una. “Uang itu yang saya  pakai ongkos transportasi ke sini (Ampana, Red),” tuturnya dengan dialeg  Jawanya.
Beruntunglah Syamsohe, ketika tiba di Kota Ampana saudara dari Ibunya tercinta pun ditemukan. Selesailah urusan mencari sanak sauadara. “Tinggal di situ kerjaan saya ke kebun setiap hari,” kata pria yang hanya mengenyam bangku pendidikan Sekolah Dasar (SD) itu .
Seiring berjalannya waktu, Syamsoeh pun kepincut kepada seorang wanita. Ijab Kabul pun berlangsung. Namun, sebelum mempersunting istri keduanya itu, Syamsoeh pernah meminjam modal sang calon pengantin sebesar Rp 700 ribu. “Dia tanya, kamu mau buat apa uang itu
? Saya bilang mau dirikan usaha, dan dia terkejut bukan main. Katanya usaha apa dengan modal Rp 700 ribu,” katanya sambil mengingat masa-masa berbunga-bunga itu sekaligus dililit penderitaan.
Setelah itu, secuil uang itu yang digunakan untuk membeli peralatan membuat aquarium seperti kaca, alat potong dan perekat. “Itu yang saya jual dan dibeli orang Rp 800 ribu dan dari uang itu yang kini berputar sampai sekarang,” urai pria yang berdomisili di Desa Sansarino, Kecamatan Ampana Kota itu.
Setelah itu, produksi aquarium mulai diperbanyak. Kemudian diisi dengan berbagai jenis ikan yang dibeli dari Kota Palu. “ Ada ikan sumatera, golden black, platis, dan arwana serta berbagai jenis ikan lain,” paparnya.
Kini tiap seminggu, Syamsoeh harus membeli ikan di Kota Palu dengan anggaran yang digelontorkan mulai dari Rp 5 juta hingga Rp 8 juta. “Paling lambat itu dua minggu sudah harus pesan lagi, kan sudah bisa sistem online . Kini saya alhamdullilah sudah bisa beli sepeda motor tidak lagi jalan kaki,” katanya.
Tapi, berbisnis bukan berarti tanpa cobaan. Baik dari kalangan keluarga keluarga atau pun dari orang lain. Syamsoeh mengaku pernah merugi karena 10 jenis ikan yang di pesannya harus mati dalam perjalanan dari Kota Palu menuju Ampana. “Kalau dari keluarga mereka tidak setuju dengan usaha ini, karena katanya  terlalu banyak modal,” ujarnya.
Pria ini, nampaknya belum puas dengan omzet yang diraupnya saat ini. Impian besar kerap menggangu ketika melepas lelah. Ap itu ? membangun bisnis skala besar dan menguasai pasar aquarium. “Pengennya bisa jualan grosir. Jadi, pedagang ikan beli sama saya,” terangSyamsoeh sambil melihat atap gubuk kecil tempatnya menjual. (*)

About uman