Home » Berita Utama » Jargon “Perlawanan” kian Menggemuruh
Jargon “Perlawanan”  kian Menggemuruh
Kampanye terbatas pasangan SMILE-SUKA di Kecamatan Nambo membuat geger warga sepanjang jalan bubung-Nambo Padang, Jum’at (4/12). Ratusan sepeda motor dan mobil menjemput rombongan HM.Sofhian Mile dan Sukri Djalumang di perbatasan Bubung. Sepanjang jalan warga sekitar berlarian keluar rumah mengacungkan satu jari tanda kegembiraan menyambut pasangan SMILESUKA.

Jargon “Perlawanan” kian Menggemuruh

“Sangat bodoh jika seorang pemimpin menolak masuknya investasi. Namun akan sangat rugi rakyat jika investasi yang masuk hanya menguntungkan orang-orang tertentu,”SOFHIAN MILE”

LUWUK-Kampanye Sofhian Mile-Sukri Djalumang, pasangan nomor urut 1 dengan tagline SMILE SUKA, yang akan diakhiri di Dongkalan, Kecamatan Luwuk, malam nanti, telah “mematenkan” seruan perlawanan ke seantero wilayah Kabupaten Banggai.
Ya, seruan perlawanan itu kian menggemuruh. Pada pertemuan dan kampanye Sofhian Mile dengan warga di Batui, Batui Selatan, Toili, Moilong, Toili Barat, Lobu, Bunta, Nuhon, Simpang Raya dan Pagimana. Seruan perlawanan juga menggema pada pertemuan dan kampanye terbatas Sofhian Mile di Bualemo, Balantak, Balantak Selatan, Balantak Utara, Lamala, Mantoh, di Masama, Luwuk Timur, Luwuk Utara, Luwuk Selatan, Nambo, Kintom dan Kecamatan Luwuk. Dengan asumsi setiap pertemuan Sofhian Mile di berbagai titik di 23 kecamatan dihadiri massa minimal 5000 orang, seruan perlawanan tersebut telah disahuti dan digaungkan oleh 115 ribu orang, plus 15 ribu massa pada kampanye di lapangan persibal Luwuk, Minggu (29/11).
Bermula dari seruan untuk melawan fitnah dan pemutarbalikkan fakta, seruan perlawanan lantas digunakan untuk sifat buruk lainnya. Perlawanan terhadap kaum pemodal-kapitalisme, monopoli, kecurangan, premanisme, penguasaan lahan dalam skala besar hingga melawan segala bentuk investasi yang tidak menguntungkan daerah. Saat kampanye terbatas di Lapangan Padungnyo, Kecamatan Nambo,  Jumat (4/12), Sofhian Mile menegaskan, bodoh jika seorang pemimpin menolak masuknya investasi. Namun akan sangat rugi rakyat jika investasi yang masuk hanya menguntungkan orang-orang tertentu. Sehingga itu menerima investasi harus selektif, harus menguntungkan rakyat di daerah ini.
Saat mengklarifikasi informasi bahwa migas telah memberikan konstribusi bagi pendapatan asli daerah, Sofhian Mile menyatakan, investasi gas belum memberikan konstribusi bagi pendapatan daerah di APBD Kabupaten Banggai. Ia menjelaskan secara detail MoU antara investor migas dengan pemda Banggai, pemprov Sulteng yang ditandatangani di Denpasar Bali pada pemerintahan daerah sebelumnya. MoU itu tidak mencantumkan soal tenaga kerja, kontraktor lokal serta jatah gas untuk daerah dan justru hanya memuat tentang ruislag atau tukar guling lahan di lokasi kilang LNG, termasuk kesepakatan tentang jalan poros provinsi 3,4 km diganti dengan jalan lingkar 12,4 km.
MoU itu justru menguntungkan spekulan tanah yang dekat dengan pusat kekuasaan serta memiskinkan pemilik lahan karena kehilangan lahan dengan harga murah.
Sebab, oleh spekulan tanah, lahan yang dibeli dengan harga murah di lokasi proyek dengan nilai investasi triliunan rupiah itu lantas dijual dengan harga miliaran rupiah per hektar.“Yang mendapatkan informasi dari pusat kekuasaan soal lokasi proyek strategis itu membeli lahan petani dan menjual dengan harga berlipat ganda,” tandasnya.
Ia mengungkapkan, masalah tanah menjadi perhatian utamanya. Sebab, masalah lahan tidak hanya terjadi di lokasi kilang LNG, namun juga terjadi di lokasi-lokasi perkantoran, di Toili, dan Toili Barat dan sejumlah kecamatan lainnya. Hampir di semua lokasi masuknya investasi, lahan dikuasai lebih dulu oleh para calo sehingga rakyat tidak mendapatkan untung.“Yang lebih dulu untung calo, makelar dan spekulan tanah,” ungkapnya.“Jika investasi menguntungkan masyarakat saya dukung, tetapi kalau merugikan masyarakat saya tak berikan izin,” tambahnya.
Sofhian Mile juga dengan tegas mengakui menolak perluasan izin perkebunan dan tambang, termasuk izin pendirian SPBU.  “Ini untuk mencegah terjadinya menopoli usaha dari hulu dan hilir,” tegasnya.
Sofhian Mile menyerukan perlawanan terhadap perampasan hak hak rakyat banyak bukan hanya menghadapi momen pilkada. “Bukan hanya pada momen pilkada, tapi ini adalah untuk masa depan kita, masa depan daerah ini, masa depan anak cucu kita, kita lawan segala bentuk kecurangan, perampasan hak hak rakyat, monopoli, kapitalisme yang mengisap darah rakyat, yang menjadikan petani kelapa menjadi buruh dikebunnya sendiri,” serunya. (ris)

About uman