Home » Berita Utama » Ini Bukti Komitmen SM Membangun Desa
Ini Bukti Komitmen SM Membangun Desa
Calon Bupati Banggai, Sofhian Mile, selalu mengesankan saat tampil orasi di panggung kampanye. Bukan hanya soal suara dan intonasi kalimatnya yang khas, materi orasinya pun didukung argumentasi yang kuat.

Ini Bukti Komitmen SM Membangun Desa

LUWUK—Membangun itu harus menggunakan anggaran. Namun anggaran pun belum cukup tanpa dibarengi dengan komitmen. Hal ini dipahami benar oleh Bupati Banggai, Sofhian Mile, dalam membangun desa. Itu mungkin yang membedakan mantan politisi senayan tiga periode itu dengan orang lain yang gemar menuduhnya balekos, sehingga gaya bicara mereka terlihat seperti anak kecil yang tak diberi permen.
Konstruksi membangun desa ala SM sapaan populer Sofhian Mile, itu, diawali dengan memperbanyak pendapatan daerah, dari semula hanya sekira Rp 773,190 miliar pada tahun 2011 menjadi Rp 1,534 triliun pada APBD-P 2015.
Untuk membangun desa, Sofhian Mile mewarisi komitmen pengalokasian anggaran sekira Rp 40 juta per desa dari pemerintahan sebelumnya. Dengan asumsi pendapatan daerah saat itu, komitmen dan keberpihakan anggaran pemerintahan sebelumnya dalam memerhatikan desa tak lebih dari dua persen saja. Padahal, saat itu telah ada undang undang yang mengamanatkan alokasi dana desa harus 10 persen dari dana perimbangan. Sebagaimana  Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa, yang diundangkan di Jakarta 30 Desember 2005, beberapa bulan sebelum pilkada Kabupaten Banggai tahun 2006 silam.
Pada pasal 68 point b disebutkan bagi hasil pajak daerah kabupaten kota paling sedikit 10 persen untuk desa dari retribusi kabupaten kota sebagian diperuntukkan bagi desa. Sementara point c disebutkan dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten kota untuk desa paling sedikit 10 persen yang pembagiannya untuk setiap desa secara proporsional yang merupakan alokasi dana desa.
Nyatanya, pada periode itu, alokasi dana desa hanya sekira 2 persen sehingga desa hanya menerima alokasi dana desa sekira Rp 10 juta sampai Rp 40 juta.
Lain dulu lain sekarang. Sofhian Mile yang tau benar membangun membutuhkan uang, memerbanyak anggaran pendapatan daerah, termasuk menaikkan Pendapatan Asli Daerah dari yang diwarisinya hanya sekira Rp 28,806 miliar tahun 2011 menjadi Rp 106 miliar lebih pada penetapan APBD–P 2015 ini. Lalu, dengan anggaran yang besar tersebut, Sofhian Mile berkomitmen mengucurkan anggaran desa sesuai amanat Undang Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa, yang kembali mengamanatkan pemerintah daerah mengucurkan alokasi anggaran 10 persen untuk desa, sama seperti amanat undang undang desa yang diundangkan 10 tahun silam.
Karena komitmen dan ketaatan terhadap amanat undang undang itu, maka sekira 291 desa di kabupaten Banggai saat ini menerima alokasi dana desa paling rendah Rp 600 juta.
Upayanya mengangkat masyarakat desa melalui keberpihakan anggaran tersebut lantas didustakan dengan argumentasi bahwa hal itu sudah sesuai dengan amanat undang undang. Padahal, tanpa menyombongkan diri pun Sofhian Mile diketahui sebagai tokoh nasional yang turut melahirkan produk undang undang. Ia bukan tokoh yang baru setahun “magang” di parlemen Senayan. Selama tiga periode Sofhian Mile di DPR RI itu bahkan turut andil melahirkan seratusan undang undang yang telah dilembar negarakan.
Tahun 2015 ini, pemerintah pusat mengucurkan anggaran untuk alokasi dana Desa dari APBN sekira Rp 77 miliar, sementara alokasi dana desa yang dikucurkan oleh pemerintah Sofhian Mile yang bersumber dari APBD sekira Rp 100 miliar.“Anggaran (pendapatan daerah) naik, ADD juga naik. Karena APBD kita sekira Rp 1 triliun sehingga desa bisa mendapatkan Rp 100 miliar lebih,” katanya. Tahun depan, kata Sofhian Mile yang juga calon petanaha pada pilkada 9 desember nanti, alokasi dana desa akan naik menjadi satu miliar lebih per desa. “Tahun depan alokasi dana desa bisa mencapai Rp 1 miliar lebih. Sebab, tahun 2016, APBD kita sudah mencapai Rp 1,5 triliun lebih (asumsi yang mengacu pada APBD –P 2015),” paparnya saat kampanye pasangan calon nomor urut 1 Sofhian Mile–Sukri Djalumang dengan tagline SMILE SUKA di Lapangan Persibal, Minggu (29/11).
Dengan anggaran daerah sebesar itu, maka pemerintah daerah bisa mengeluarkan 10 persen dana APBD atau sekira Rp 150 miliar untuk desa. Anggaran tersebut belum termasuk anggaran dari pemerintah pusat (APBN) yang diproyeksikan sekira Rp 172 miliar tahun depan. “Inilah sebenarnya yang membuat dana desa itu besar. Kenapa tidak dari pemerintahan sebelumnya besar? Karena komitmen untuk melaksanakan amanat undang undang harus 10 persen itu tidak sepenuhnya dijalankan,” paparnya.
Sofhian Mile menyatakan keberpihakan kepada desa itu akan dibarengi dengan keberpihakan anggaran pada kelurahan. Sehingga, tahun depan, anggaran desa dan kelurahan seimbang, setara atau bahkan lebih besar anggaran kelurahan. “Dengan begitu insyaallah kepala RT/RW dan lingkungan semua bisa mendapatkan honor,” tambahnya. (ris)

About uman