Home » Berita Utama » Taklukan Trik Mulai dari Kickflip hingga Kickflip Body Varial
Taklukan Trik Mulai dari Kickflip hingga Kickflip Body Varial
Baldi (berdiri kanan,red) bersama skater pegiat Tominsan Skateboarding Luwuk. Mereka memegang erat asas kekeluargaan dalam menggeluti olahraga kebarat-baratan, Sakateboard, Jumat (27/11).

Taklukan Trik Mulai dari Kickflip hingga Kickflip Body Varial

Tominsan Skateboarding adalah sekelompok skaters asal kota Luwuk yang memegang erat asas kekeluargaan dalam menggeluti hobi ala California, Amerika Serikat, Skateboard. Bagaimana mereka menjalani aktivitas dalam komunitas ini? Berikut liputan wartawan Luwuk Post.

LAPORAN: Ld Iman Firmansyah Haffilu, Luwuk Post

DI kabupaten Banggai, jenis olahraga skateboard alias papan seluncur agaknya minim peminat. Populasinya memang sangat-sangat sedikit dibanding olahraga lainnya seperti, sepak bola, voli ball dan sebagainya. Maklum, selain tak tersedianya sarana skatepark (arena,red), olahraga yang bangkit dan populer pada tahun 1975 ini nyaris tak pernah tersosialisasikan. Hanya sekelompok skater (pemain skateboard,red) yang perlahan mulai memperkenalkannya.
Dialah Tominsan Skatebording Luwuk. Kata Tominsan berasal dari bahasa daerah suku Saluan yang berarti keluarga. Tak sekedar nama, untuk tetap mengimbangi korelasi antara budaya barat dalam olahraga ekstrem itu, Tominsan memegang erat asas kekeluargaan yang juga menjadi ideologi organisasi di negara ini.
“Kami bukan komunitas, melainkan hanyalah kelompok skater penghobi skateboard,” ungkap Baldi, salah seorang skater, Jumat (27/11).
Selain itu, Tominsan juga tak mengenal posisi ketua, sekretaris atau unsur pimpinan lainnya. Mengapa begitu? Baldi dan kawan-kawannya (dkk) cenderung menghindari indikasi penindasan oleh pemegang tongkat kepemimpinan berkaca dari kondisi organisasi pada umumnya.
Setiap hari, mulai pukul 16.00 sore hingga 22.00 malam, para skater Tominsan kerap terlihat dengan berbagai trik di sekitaran Masjid Agung Luwuk, atau sekitaran Teluk Lalong. Trik yang sering diperagakan mulai dari freestyle kickflip, Ollie, fifti-fifti (50:50), possible, tik-tak hingga kickflip body varial.
“Yang sulit bagi kami adalah trik possible, tapi ketika itu berhasil dilakukan memberikan kebanggaan dan kepuasan tersendiri terhadap skater,” jelas Baldi yang diaminkan para skater lainnya, Doni, Jet, Angki, Adi, Nopri dan Peldi.
Disamping karena hobi, Tominsan memiliki alasan lain terhadap rutinitas mereka. Adalah menghindari oabat-obatan terlarang dan minuman keras yang kemudian mendorong para skater fokus mengisi free time. Tominsan yang terdiri dari para remaja pria mulai dari tingkat SMP, SMA, Perguruan Tinggi hingga pekerja Swasta cenderung memilih hobi ketimbang mengikuti pola pergaualan remaja masa kini.
“Sekarang ini banyak remaja yang memilih miras dan obat-obatan sebagai sahabat nongkrong atau kegiatan free time lainnya, apalagi balap-balapan liar di jalan. Bagi kami itu sangat merugikan diri sendiri dan orang tua, makanya kami lebih memilih menghabiskan waktu luang berkumpul bersama teman sambil aduh trik skateboard,” terang remaja berambut gondrong ini.
Dua tahun terakhir Tominsan aktif dengan keseharian sebagai para skater. Meski karier mereka belum setinggi langit, setidaknya Tominsan telah beberapa kali mengadakan event lokal yang melibatkan komunitas skateboarding asal daerah tetangga seperti kota Palu, Poso dan Gorontalo. Tominsan juga pernah tampil saat event di provinsi Gorontalo. Sayangnya, performance mereka masih dibawah ketimbang perwakilan skateboarding daerah lain.
“Bagaimana mau merebut juara kalau di daerah kami (Luwuk,red) tidak ada skatepark yang disediakan pemerintah. Padahal, di daerah lain seperti kota Palu, Poso dan Gorontalo pemerintahnya mampu memfasilitasi itu. Sesungguhnya kami iri dan berharap akan hal itu, tapi entalah bagaimana cara mewujudkan itu,” keluh Baldi sembari menundukan kepalanya sejenak.
Meski begitu, Tominsan tak lantas pesimis dalam menyalurkan hobi kepada siapa saja yang ingin bergabung. Sampai saat ini, Tominsan memiliki anggota hampir 30 orang yang berasal dari kota Palu, kota Luwuk, kecamatan Toili dan beberapa kecamatan lainnya di kabupaten Banggai.
Cucuran keringat menyelinap dihelai rambut para skater. Dari wajah para remaja itu tergambar jelas harapan adanya perhatian pemerintah daerah setempat supaya menyediahkan skatepark. Jika kedepan impian itu terealisasi, Baldi dkk optimistis dapat menarik perhatian para skater yang tersebar disejumlah daerah untuk berkunjung ke kota Air Luwuk.
“Harapannya sih seperti itu. Sembari menanti keajaiban kami menggunakan jalan umum dan peralatan seadanya saja. Kalau nantiny anggota Tominsan bertambah semoga makin berkurang remaja pengonsumsi miras, obat-obatan terlaran (narkoba) dan balap-balapan liar,” tekadnya.(*)

About uman