Home » Luwuk Utara-Timur » Debu Jadi Hantu, Pemda Cuek
Debu Jadi Hantu, Pemda Cuek
Udara bercampur debu yang selalu dihirup warga setempat, akan berdampak negatif bagi kesehatan.

Debu Jadi Hantu, Pemda Cuek

Bila kehidupan warga di wilayah Kalimantan dan Sumatera dihantui dengan kabut asap, di Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah berbeda. Warga justru menghirup udara kotor akibat lalu lalang kendaraan konteiner, sehingga menimbulkan debu berkepanjangan.

Laporan : Asnawi/Luwuk Post

Siang itu sekira pukul 11.00 wita, warga terlihat sibuk dengan aktifitas keseharian. Di depan pelabuhan konteiner, Tanjung Kelurahan Karaton, aktifitas warga yang sering terlihat adalah para tukang ojek yang memakiran kendaraanya sambil menawarkan jasa bagi penumpang yang datang menghampiri. Terlihat juga di sepanjang jalan tersebut, warung makan yang berjejer menghidangkan aneka rasa makanan demi memuaskan pelanggannya.
Namun, dari kesibukan warga, ada yang berbeda. Jalan yang panjanganya sekira 1 kilometer itu diselimuti kabut. Tapi bukan kabut asap, melainkan debu hasil kendaraan konteiner yang selalu beraktifitas setiap harinya. Dinding rumah makan, kios-kios kecil, serta perumahan warga terlihat putih dibungkusi debu yang tebal. Anehnya, warga merasa terbiasa dengan kondisi itu. Walalupun sudah terbiasa, tetap saja debu menganggu saluran pernapasan warga. Bagaimana tidak, udara yang dihirup sudah kotor dan tentunya mengganggu keehatan warga.
“Memang kami sudah biasa dengan debu disini. Tapi kadang torang sering batuk-batuk. Mungkin karena hirup debu di sekitar pelabuhan ini. Kondisi ini sudah terjadi cukup lama. Yaa… mau bagaimana lagi??? Kami pernah mengeluh ke pemerintah, tapi sampai sekarang juga tidak ada tindak lanjutnya,” ujar seorang warga, Abd. Rahmad, Rabu (25/11).
Warga terkesan pasrah dengan keadaan. Pasalnya, sudah beberapa kali warga mengeluhkan kondisi ini ke pemerintah. Warga sebenarnya terpaksa menerima kondisi itu, karena terdapat banyak kehidupan yang bisa dimanfaatkan untuk menghidupi keluarga mereka. Misalnya, terdapat tempat pelelangan ikan (TPI), usaha rumah makan, kios-kios sembako, buruh pelabuhan maupun puluhan tukang ojek yang menjual jasanya.
Anehnya lagi, pengunjung pun ikut terlena dengan kabut debu. Sebab, aneka makanan yang diduga terkontaminasi dengan dengan debu, habis dilalap pengunjung. Tanpa memikirkan dampak negatif yang terjadi bagi kesehatan. Pengunjung warung makan yang paling dominan biasanya berasal dari tukang ojek, buruh pelabuhan. “Kalau sudah lapar, pasti tidak perduli. Mau ada debu atau apa, langsung dimakan. Tapi saya rasa makanan itu sudah dimasuki dengan debu,” tandas pria yang berbadan tegap  tersebut.
Meski demikian, kata Rahmad, bukan berarti warga harus mengikuti kondisi yang berdampak buruk bagi kesehatan tersebut. Seharusnya, pemerintah lebih fokus melihat penderitaan rakyat yang sehari-hari ditemani dengan udara yang bercampur debu.
Keluhan ini sangat mendasar. Sebab, dalam pikiran warga yang ditakuti adalah, anak-anak mereka setiap harinya menghirup debu. Bila ini terjadi secara terus menerus, maka akan menimbulkan penyakit di kemudian hari. Seperti, gangguan pernapasan atau yang lainnya.
“Kami takut anak-anak terserang penyakit. Bila debu tidak secepatnya di urus, maka masa depan anak-anak akan sirna. Karena kesehatan terganggu,” kata pria yang berprofesi sebagai pengusaha itu.
Rahmad menilai, pemerintah daerah (Pemda) terkesan menganak tirikan warga Tanjung. Penilaian buruk ini pantas dilontarkan, sudah bertahun-tahun warga hidup dengan udara kotor. Namun, tidak ada langkah konkrit yang dilakukan Pemda. Bahkan terkesan cuek dengan keadaan warga. Tidak banyak yang diinginkan warga, hanya tindakan nyata dari Pemda untuk meminimalisir debu. Agar warga bisa hidup baik, seperti warga yang lainnya.
Sepertinya, tambah Rahmad, Pemda takut dengan sekelompok orang yang bertahan melakukan bongkar muat konteiner  di kota Luwuk. Padahal, wacana untuk memindahkan pelabuhan konteiner di Tangkiang, Kecamatan Kintom sudah cukup lama. “Kayaknya Pemda takut untuk pindak ke Tangkiang. Sebab, banyak kelompok yang mendesak atas wacana itu. Nah, kami hanya tunggu saja, apakah Pemda lebih melihat penderitaan rakyat, ataukah takut dengan perlawanan tersebut,” tegasnya sambil menawarkan jasa ke salah seorang pengunjung. (*)

About uman