Home » Feature News » Perang Besar dan Warisan Raja Lalogani
  • Penyambutan Bupati

    Para pelajar di Kecamatan Lamala saat berbaris di jalan raya (Desa Bonebakal sekarang) saat menunggu kedatangan Bupati Banggai ke Lima (V) Eddy Singgih di ibukota Kecamatan Lamala. Kegiatan ini terjadi antara tahun 1973-1978. (Foto: Dok Kel. Chaerul Akbar Mahiwa For Luwuk Post)

  • Penyebrangan

    Penyeberangan yang menghubungkan Desa Kotaraya dan Desa Bonebakal di Kecamatan Lamala, menjadi satu-satunya jalur transportasi yang menghubungkan wilayah Kecamatan Masama (sekarang) dan Kecamatan Lamala. Dahulu, jalur penyeberangan ini sangat ramai. Namun beberapa tahun belakangan jalur transportasi darat-pun mulai dibuka, yang menghubungkan Desa Baruga- Bahari Makmur-Lomba-dan Desa Bonebakal, sebagai ibukota Kecamatan Masama. (Foto: Dok Kel. Chaerul Akbar Mahiwa For Luwuk Post)

  • Upacara Bendera

    Camat Lamala, (Alm). Achmad Mahiwa (Thn 1970-an) saat memimpin upacara bendera peringatan HUT 17 Agustus di halaman Kantor Camat Lamala di Desa Bonebobakal. Dahulu, Masama menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Lamala. (Foto: Dok Kel. Chaerul Akbar Mahiwa For Luwuk Post)

  • Pelantikan Camat

    Prosesi pelantikan GL.Manus sebagai Camat Lamala menggantikan camat Lamala sebelumnya Achmad Mahiwa. Pelantikan digelar di kantor Kecamatan Lamala di Desa Boneboakal pada tahun 1986. (Foto: Dok Kel. Chaerul Akbar Mahiwa For Luwuk Post)

  • Kunjungan

    Bupati Kabupaten Banggai ke Lima (V) Eddy Singgih, dalam salah satu kunjungan kerjanya di Desa Bonebobakal, ibu kota Kecamatan Lamala. Eddy Singgih memimpin Kabupaten Banggai pada 14 Desember 1973-22 Juni 1978. (Foto: Dok Kel. Chaerul Akbar Mahiwa For Luwuk Post)

  • Kunjungan

    Bupati Kabupaten Banggai ke Lima (V) Eddy Singgih, dalam salah satu kunjungan kerjanya di Desa Bonebobakal, ibu kota Kecamatan Lamala. Eddy Singgih memimpin Kabupaten Banggai pada 14 Desember 1973-22 Juni 1978. (Foto: Dok Kel. Chaerul Akbar Mahiwa For Luwuk Post)

  • Kunjungan

    Bupati Kabupaten Banggai ke Lima (V) Eddy Singgih, dalam salah satu kunjungan kerjanya di Desa Bonebobakal, ibu kota Kecamatan Lamala. Eddy Singgih memimpin Kabupaten Banggai pada 14 Desember 1973-22 Juni 1978. (Foto: Dok Kel. Chaerul Akbar Mahiwa For Luwuk Post)

Perang Besar dan Warisan Raja Lalogani

Kabupaten Banggai dikenal dengan sebuah daerah yang majemuk dengan keberagaman budaya lokal. Selama ini, hanya dikenal tiga etnis lokal yang mendiami wilayah timur Sulawesi Tengah, yakni Banggai, Saluan dan Balantak.  Namun, selain itu, di bagian timur Kabupaten Banggai, sebenarnya terdapat sebuah komunitas masyarakat lokal yang nyaris tak pernah terungkap. Ia adalah etnis Andio, sebuah komunitas masyarakat lokal yang memiliki hubungan erat dengan catatan sejarah kerajaan Tompotika di masa lalu.

Laporan : Gafar Tokalang// Luwuk Post

Tak banyak yang mengenal etnis  Andio, sebuah komunitas lokal yang berada di wilayah timur Kabupaten Banggai. Selama ini, orang-orang hanya mengenal etnis Banggai, Saluan dan Balantak, di setiap membicarakan Kabupaten Banggai dan sejarahnya. Padahal, di wilayah yang hanya berjarak 65 kilometer dari dari ibukota Kabupaten Banggai itu, terdapat sebuah komunitas masyarakat lokal, yang hidup turun temurun dengan kearifan budayanya.
Etnis Andio bisa ditemukan di beberapa desa di Kecamatan Masama dan sebagian Kecamatan Lamala. Salah satu desa yang didiami oleh masyarakat Andio di Kecamatan Masama, adalah Desa Taugi, yang juga merupakan desa tertua di wilayah itu.
Saat pembentukan Kecamatan Masama dari Kecamatan Lamala pada desember 2003, tokoh masyarakat setempat tidak menyatukan komunitas lokal Andio tersebut ke dalam satu wilayah kecamatan. Kala itu, Kecamatan Masama hanya terbentuk dari beberapa desa di selatan Kecamatan Lamala, sedangkan sebagian dari komunitas Andio tetap berada di wilayah Kecamatan Lamala sekarang.
Mengenali etnis Andio, tak bisa dilepaskan dari Desa Taugi, salah satu desa tertua yang berada di wilayah tersebut. Mayoritas penduduk desa tersebut adalah suku Andio, yang keberadaannya berkaitan erat dengan Kerajaan Tompotika dimasa lalu.
Masyarakat suku Andio di Masama, memiliki kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal Kabupaten Banggai. Misalnya soal bahasa. Orang Andio memiliki bahasa tersendiri yang berbeda dengan bahasa Banggai, Saluan atau Balantak, tiga etnis yang selama ini dikenal di Kabupaten Banggai.
Bahasa Andio bisa ditemukan di Desa Taugi dan Tangeban. Sayangnya, sampai saat ini, tak banyak referensi yang menceritakan tentang keberadaan etnis Andio ini, termasuk sejarah bahasanya. Mereka memahami bahwa bahasa Andio merupakan bahasa Kerajaan Tompotika di masa lalu, yang mereka bawa hingga saat ini.
Orang-orang Andio secara umum sangat mudah dan dapat memahami bahasa Saluan dan Balantak dalam berkomunikasi. Tetapi orang Balantak dan Saluan, secara umum, sulit memahami dan bahkan tak bisa berbahasa Andio.
Masyarakat Andio di Masama memahami bahwa mereka merupakan keturunan dari Raja Lalogani,  raja terakhir Kerajaan Tompotika, yang tewas dalam pertempuran saat kerajaan Tompotika diserang oleh tentara dari kesultanan Ternate, yang dibantu oleh pasukan Tobelo dan Gorontalo.
Saat kerajaan Tompotika hancur, penduduk kerajaan Tompotika tersebar di beberapa wilayah. Salah satunya adalah di wilayah lembah Masama, yang kini menjadi Kecamatan Masama. Bosaano pertama Masama adalah Maladanga, cucu dari Lalogani. Sedangkan Bosaano kedua Masama adalah Morong, cucu dari Mapaang, yang merupakan saudara perempuan Lalogani.
Cerita soal dua bersaudara dari Tompotika, yakni Lalogani dan Mapaang, sangat dikenal oleh komunitas Andio di Masama. Bahkan sebutan Masama, diambil dari burung Lainsama, seekor burung yang menyerupai burung elang. Burung tersebut adalah burung sakti milik Mapaang.
Dalam perjalanan waktu, etnis Andio tidak berkembang cepat. Etnis Andio hanya ditemukan di beberapa desa di Masama dan sebagian Kecamatan Lamala. Ia bahkan tak menjadi satu-satunya etnis yang berada di wilayah Masama. Meski begitu, sikap keterbukaan terhadap setiap perubahan dan perbedaan yang datang dari luar, selalu bisa diterima oleh komunitas ini.
Sebelum Kecamatan Masama terbentuk, wilayah itu masih menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Lamala. Pada era tahun 1970-an, masuklah program transmigrasi di wilayah Masama sekarang, yakni transmigrasi Bali dan Jawa yang sekarang menjadi Desa Kospakarya, Kospaduata Karya, Kembang Merta dan Purwoagung.
Di luar dari program transmigrasi, pada era yang bersamaan, komunitas etnis Bugis dari Sulawesi Selatan, juga berdatangan secara berkelompok di wilayah Masama tersebut. Meskipun terjadi percampuran etnis Bugis, Bali, Jawa dan etnis Andio sebagai etnis lokal di Masama, namun tak pernah ada catatan sejarah terjadinya gesekan antar etnis di wilayah itu, yang hingga menyebabkan dampak serius. Kalaupun ada gesekan, itu masih dalam batas kewajaran dalam kehidupan sosial masyarakat.
Menurut Kepala UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Masama, Darwis Lumalaga, kebersamaan dalam keragaman suku dan budaya di Masama tersebut, patut diberikan apresiasi. Katanya, kearifan lokal orang Andio dalam menerima komunitas luar yang datang, dan kearifan lokal etnis Bugis, Jawa dan Bali yang masuk di wilayah Masama, menjadi nilai yang cukup mahal harganya.
Ia bahkan menyebutkan bahwa nilai kebersamaan masyarakat di wilayah itu sangat mahal, dan harus dijaga sampai kapanpun.
“Kita bisa melihat melalui media, bagaimana benturan sosial masyarakat kerap terjadi akibat perbedaan etnis dan suku. Namun ini tidak pernah terjadi di Masama. Ini adalah sebuah kekayaan, yang menurut saya patut diberikan apresiasi,” tuturnya.(*)

About kanaya