Home » Editorial » Dan, Ujian Pertama itu Adalah…
Dan, Ujian Pertama itu Adalah…
Editorial

Dan, Ujian Pertama itu Adalah…

ADA getaran berbeda saat bupati, wabup, sekkab dan seluruh pejabat di lingkungan pemda Kabupaten Banggai mengumandangkan sumpah antikorupsi, Senin pagi (9/12) kemarin.
Koran ini yang diundang—tepatnya sebagai penonton—untuk ikut menyaksikan peristiwa momenumental itu bergidik. Meski tidak tegas, suara-suara ikrar yang dipandu Sekkab Banggai itu cukup menggetarkan bulu roma.
Bukan kali pertama ini kita menyaksikan pejabat berikrar, berjanji apalagi bersumpah. Tekad seperti itu, sudah seperti sarapan pagi. Setiap kali pejabat dilantik sumpah jabatan selalu mengiringi. Antara pejabat dan sumpah seperti lagu dan instrumen. Tanpa instrumen, lagu menjadi hambar. Pun begitu sebaliknya. Setiap pejabat bahkan bisa disumpah berlapis-lapis. Toh, sumpah kemudian lebih banyak menjadi sampah.
Mengapa? Mungkin saja karena sumpah itu memang berada di wilayah transenden. Implikasi dari sumpah tidak nyata. Sanksi melanggar sumpah lebih metafisis. Jauh lebih menakutkan melanggar pasal-pasal korupsi dan pidana, ketimbang mengingkari ikrar, sumpah dan janji jabatan. Melanggar undang-undang efeknya jelas; cash and carry. Tapi melanggar sumpah, urusan ghoib, nanti, bukan sekarang. Buktinya, berlapis-lapisnya sumpah jabatan, ikrar dan pakta integritas belum mampu menekan angka korupsi yang kecenderungannya justru terus meningkat. Fakta ini yang membuat banyak orang skeptis. Tidak percaya, ikrar apapun yang dikumandangkan pemerintah untuk “puasa” korupsi akan berhasil. “Saya pikir ini akan akan habis di seremonial lagi,” begitu bisik salah seorang anggota DPRD Banggai di sela-sela acara, kemarin.
Terhadap ini, banyak orang yang pilihannya jelas, skeptis, pesimis. Tapi, kemarin, kami justru berada di wilayah perbatasan antara optimistis dan pesimistis. Saat ikrar dibacakan, saat bupati menegaskan komitmennya dalam pidato yang agitatif, saat para pejabat membubuhkan tanda tangannya di atas dokumen pakta integritas antikorupsi, muncul letupan harapan bagi pemberantasan korupsi di daerah ini. Saat-saat itu, jujur kami bergidik. Bulu roma berdiri, bukan karena takut, tapi bangga. Tapi di saat yang sama, seolah ada bagian perasaan lain yang menekan untuk tidak jumawa. Seolah menyadarkan bahwa “sumpah” hari ini memang hanya serimonial belaka. Tidak tulus. Dan nasibnya akan sama seperti jargon antikorupsi yang lain.
Sebab katakanlah bupati memang serius bagaimana dengan pejabat di berbagai level di bawahnya. Apakah ikrar itu akan bisa mengikat? Entahlah. Tapi kemarin, ujian pertama terhadap ikrar itu sudah terlihat. Para pejabat meninggalkan lapangan apel akbar dengan serakan sampah dimana-mana. Ini bisa jadi bukan korupsi. Tapi, berikrar antikorupsi lalu meninggalkan serakan sampah, tentu bukan sebuah teladan moral (integritas) yang baik. Ingat, kebersihan adalah bagian dari moral.(*)

About kanaya